Di sebuah kota kecil, hiduplah seorang pria bernama Joko yang terkenal karena selalu punya ide-ide unik, tapi kadang ide-idenya sangat konyol. Suatu malam, Joko merasa sangat lapar, namun di rumahnya hanya ada satu bungkus mie instan. Ia pun memutuskan untuk memasak mie tersebut.
Namun, saat sedang memasak, Joko sadar kalau gas di kompor habis. Ia berpikir keras mencari solusi. "Ah, mungkin aku bisa menggunakan lilin untuk memanaskan air," gumam Joko sambil menyalakan beberapa lilin dan menaruh panci di atasnya.
Setelah beberapa menit, Joko merasa air di panci tidak juga panas. Ia mulai frustasi dan lapar. Kemudian, sebuah ide “cerdas” melintas di kepalanya. "Kalau lilin tidak cukup panas, bagaimana kalau aku menggunakan pengering rambut?" pikirnya.
Joko pun bergegas mengambil pengering rambut dan mulai mengarahkan panasnya ke panci berisi air. Sambil menunggu, ia merasa semakin lapar dan memutuskan untuk memakan bumbu mie instannya terlebih dahulu.
Setelah 15 menit, ia menyadari kalau airnya masih belum panas dan pengering rambutnya mulai berasap. Namun, Joko bukan orang yang mudah menyerah. “Mungkin aku harus menggunakan sesuatu yang lebih panas lagi,” katanya dalam hati. Ia pun melihat setrika di sudut ruangan.
Tanpa berpikir panjang, ia menyalakan setrika, menaruhnya di dalam panci, dan menunggu. Beberapa menit kemudian, panci itu mulai mengeluarkan bau gosong, dan tiba-tiba terdengar suara keras. Ternyata panci itu berlubang karena setrika yang terlalu panas!
Keesokan harinya, Joko bercerita kepada teman-temannya tentang petualangannya yang konyol itu. Salah satu temannya tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Joko, lain kali kalau gas habis, kamu cukup hubungi tukang gas! Bukan mengadakan eksperimen sains di dapur.”
Mereka semua tertawa, dan Joko pun akhirnya belajar bahwa kadang solusi paling sederhana adalah yang terbaik.
Parjo menemui dokter spesialis kelamin. Katanya, “Dok, saya punya masalah, tapi Dokter harus janji dulu untuk tidak tertawa nanti yah?” “Tenang. Saya janji tidak akan tertawa. Itu melanggar sumpah kedokteranku,” jawab dokter bersahaja. Parjo langsung menurunkan celananya, burungnya ternyata kecil sekali, mungkin diameternya hanya sebesar pensil steadler 2B. Melihat barang yang hanya seadanya, dokter tak kuat menahan tawanya, dia tertawa terpingkal-pingkal, sampai berguling-guling dilantai. Beberapa menit kemudian baru dia dapat mengendalikan emosinya. “Maaf Mas. Hhh.. hh.. Saya kelepasan. Saya janji tidak akan tertawa lagi. “Nah, sekarang masalah Saudara apa?” kata dokter, berjuang keras menyembunyikan sisa tawanya. Parjo ngomong dengan nada sedih : “Burung saya sudah tiga hari bengkak begini..”
Comments
Post a Comment